SOLO – Rintik-rintik hujan membasahi kawasan Stadion Manahan sejak pagi, kemarin (18/4). Namun itu tak menyurut- kan semangat ratusan anak-anakyang berkaos kuning merah untuk bermain bersama. Murid-murid SD Islam Interna- sional Al Abidin ini tetap aktif dan lincah memainkan beragam permainan tradisional di area Stadion Manahan.

 

Beberapa siswa seperti diberitakan Jawa Pos Radar Solo, Jumat (19/4) terlihat memainkan lompat tali dan uding, egrang bathok, engklek, bakiak. Salah satunya Muhammad Raihan Azyqar (7) yang terlihat beberapa kali membetulkan letak mahkotanya yang terbuat dari daun nangka. Mahkota itu hampir terlepas saat ia bermain bakiak dengan dua temannya. Lantaran area yang basah, Azyqar dan teman-temannya agak kesulitan berjalan dengan bakiak.

“Yang kaki kanan dulu yo,”komando Azyqar yang berada di barisan paling depan. Rupanya Azyqar dan temannya tengah berlomba dengan siswa lain untuk mencapai garis finish.

“Kakinya harus dibarengkan biar nggak jatuh, yang kanan dulu apa yang kiri dulu. Jalannya juga pelan-pelan/’kata Azyqar usai mencapai garis finish. Siswa kelas I itu mengaku sangat senang bermain bersama teman-temannya. Karena biasanya ia hanya bermain monopoli dan playstation di rumah. Menurutnya permainan tradisional lebih mengasyik- kan dibandingkan game modern seperti Playstation sebab ia bisa bermain bersama teman-temannya.

“Lebih suka main (permainan, Red) tradisional. Karena bisa bareng-bareng sama temankata Azyqar yang ternyata piawai bermain engklek dan kelereng.

Tak jauh dari tempat Azyqar bermain bakiak, seorang siswa terlihat kepayahan memainkan egrang bathok. Dengan tertatih bocah kecil itu mengangkat tali yang menjadi pengait bathok. Tak berselang lama murid ini terpeleset. Namun justru bocah kecil itu terkekeh- kekeh. “Memang susah sih mainnya (?egrang bathok,Red). Karena harus jaga keseimbangan. Nariktalinya harus pas,” kata Muhammad Afik Arfiansyah.

Meski sudah terpeleset lantaran bermain egrang bathok, namun anak lelaki berusia tujuh tahun itu justru

tertantang untuk mencobanya kembali. “Ini mau coba lagi, pokoknya sampai bisa,” ujarnya.

Sementara itu, Penanggung jawab kegiatan Rin Fibriana menjelaskan, pihaknya sengaja menggelar outing class tersebut dengan memilih permainan tradisional untuk dikenalkan pada anak. Sebab permainan tradisional secara kualitas lebih baikjika dibandinc- ar game modern.

“Permainan modern itu gak meia: n perkembangan anak. Berbeda dengan permainan tradisional yang mengem- bangkan kognitif, emosi, mote – nalus dan kasar, serta interaksi sosial anak,” terang dia.

Pada kegiatan yang diikuti oleh 157 siswa tersebut, terdapat 10 permainan tradisional yang dikenalkan. Di antaranya lompat tali dan uding, egrang bathok, engklek, bercok, bakiak, gangsing bambu, untrakol, sedingklik oglak-aglik, luru mundu dan gobak sodor.

“Satu kelompok ada 13-15 anak. Masing-masing permainan dimainkan selama 15 menit/’jelas Rin. (dah/wa)