Sebuah pepatah jawa; ‘semu mentri, esem bupati, dhupak kuli’ menggambarkan kualitas diri ketika berhubungan dengan orang lain dan pelaksanaan terhadap amanah dan tanggung jawab. 

Manusia kualitas kuli harus senantiasa didhupak (red: ditendang) untuk bekerja, berbuat sesuatu atau melakukan kepatuhan terhadap peraturan dan pekerjaan. Level di atasnya adalah bupati, dimana perlu ada gestur seperti eseman (senyuman) terlebih dahulu untuk tahu kesalahnnya apa dan bagaimana harus menuntaskannya. Dan yang paling atas adalah manusia kualitas menteri yang hanya dengan semu (samar) sudah tahu harus berbuat apa, apa yang kurang, dan bagaimana harus mengatasinya. Maka, ketika kita bermimpi menjadi menteri atau selevelnya, mulai sekarang harus berlatih untuk senantiasa mengemban amanah sebaik-baiknya, mengevaluasi diri secara berkala, disiplin dan bertanggung jawab.

Kebiasaan disuruh oleh orang tua lama kelamaan akan membentuk kita sebagai orang yang bermental kuli. Pagi harus dibangunkan, shalat harus disuruh, mandi harus diingatkan, belajar harus ditunggui dan kebiasaan harian lain yang harus menunggu instruksi terlebih dahulu. Mulai sekarang ubah kebiasaan, siapkan jam waker untuk membangunkan kita setiap pagi, tetapkan jadwal harian dan perjuangkan untuk menepatinya. 

Ingat, kita sudah berada di era global yang hampir tanpa sekat, persiapkan diri kalian untuk menjadi kompetitor yang unggul atas umat dan negara-negara yang lain.

Sepenggal pesan untuk siswa level 7, 8 dan 9 dalam apel pagi ini.