Setelah ramai di media sosial tentang wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru untuk, Muhajir Effendy, melaksanakan sistem ‘fullday school‘ di indonesia, banyak yang langsung menentang, mencemooh dan nyinyir terhadap wacana tersebut, bahkan tidak sedikit yang membandingkan dengan Finlandia sebagai negara dengan sistem dan output pendidikan terbaik (versi mereka), kemarin saya mendapatkan kepastian tentang Finlandia dan sistem pendidikannya langsung dari sumbernya, Mr. Allan Hakan Schneitz, The leader of theDream School Project in Finlad.

Dia menyampaikan di negara, yang hanya berpenduduk 5,5 juta jiwa, peran pendidikan tidak bisa kita berikan hanya kepada sekolah, tapi juga orangtua dan masyarakat. Jadi ketika siswa di sana bersekolah, 5 s.d 6 jam/hari, mereka pulang ke rumah sudah ada ‘guru’ lain yang menunggu, mereka adalah orang tua, tetangga, televisi/tontonan yang punya peran yang sama dengan sekolah. Bahkan peran masyarakat termasuk yang paling urgen dan beliau mengutip sebuah pepatah afrika ‘it takes whole village to raise a child’ sehingga masyarakat sadar bahwa untuk membesarkan seorang anak dibutuhkan kolaborasi yang utuh antara pengelola negara, sekolah, orang tua dan masyarakat. 

Dan di akhir ketika ada seorang penanya yang meminta pendapatnya tentang keberadaan sekolah ‘fullday‘ di Indonesia, beliau menjawab dengan bijak bahwa permasalahan bukan pada beberapa lamanya bersekolah tapi efektivitas dalam pendidikan di sekolah. Ketika lama itu efektif dan memberi added value bagi peserta didik itu lebih baik, dan sebaliknya kalo waktu di sekolah singkat dan kita tidak bisa memastikan akan belajar apa mereka setelah di sekolah maka fullday itu mungkin lebih baik’

Singkat kata, kita harus bijak memandang keberadaan fullday maupun non-fullday dari bagaimana kondisi lingkungan masyarakat kita dan kebijakan negara untuk mengelola ‘tontonan’ yang dijadikan tuntunan sebagai media belajar atau justru sebaliknya.